GEREJA DI ERA DIGITAL
Gereja sebagai komunitas beriman yang mengembara, yang berdimensi spasial sekaligus temporal tidak pernah sepi dari tantangan yang berasal dari konteks di mana ia ada dan berteologi. Kemajuan di bidang teknologi-informasi, pengaruh media sosial tak luput dari area di mana gereja juga harus berurusan dan mengambil peran sebagai garam dan terang. Dalam situasi seperti saat ini, gereja kembali diuji untuk tetap menjalankan fungsinya. Dari waktu ke waktu, oleh topangan rahmat Tuhan, gereja telah menunjukkan keteguhan eksistensi kontekstualisasinya sebagai perwujudan tugas dan panggilan: persekutuan, pelayanan dan kesaksian. Gagasan tentang gereja digital adalah sebuah tawaran kehidupan menggereja pada masa kini. Dunia virtual meskipun di satu sisi memiliki potensi untuk disalah gunakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu; namun di sisi lain dapat menjadi peluang di mana gereja memiliki cara pandang baru dalam memandang realitas Allah yang transenden. Ketimbang melihat realitas pemanfaatan media sosial dengan segala ancamannya, sudah waktunya gereja memberikan manfaat baru bagi pembangunan komunikasi, komunitas dan pemuridan.
Teknologi adalah suatu sumber daya di mana gereja harus dengan bijak mengambil peran sebagai penatalayan yang cakap demi terlaksananya pemberitaan Amanat Agung di era digital. Dalam kerangka pemahaman “Digital Ecclesiology” ini penulis meminjam istilah Stedzer “Technologicalification of the church”atau Teknologifikasi gereja adalah sebuah tantangan sekaligus peluang yang sangat besar, di mana setiap individu jemaat para pelayan Firman perlu memanfaatkan teknologi untuk memungkinkan pelaksanaan misi gereja. Stedzer menawarkan tiga hal terkait bagaimana gereja dapat memanfaatkan teknologi digital ini dalam memenuhi panggilan ekklesiologis-misionalnya, antara lain:
Technology Enables Communication: melalui sosial media seperti Facebook dan Twitter atau melalui Blog Gereja, maka seharusnya dapat dengan mudah dibangun sebuah komunikasi secara langsung dengan jemaat di sepanjang hari bahkan minggu. Di sini teknologi memungkinkan jemaat dengan mudah memiliki komunikasi langsung dalam skala yang lebih luas dan lebih jelas. Kedua, Technology Enables Community: teknologi memungkinkan ikatan komunitas eklesiologis yang lebih besar yang tidak menuntut kedekatan secara fisik. Dalam dunia nyata, seseorang dapat saja duduk berdampingan satu sama lain di dalam gereja dari minggu ke minggu bahkan tidak salingbertegur sapa satu sama lain. Namun kini melalui teknologi, jemaat di gereja dapat berdoa satu sama lain berkat halaman sebuah postingan di Facebook gereja. Meskipunsecara nyata mereka sudah saling kenal, namun di lain waktu mereka bertemu satu sama lain melalui media sosial di dunia maya. Diterima atau tidak, media sosial kini merupakan tempat generasi muda berinteraksi. Ini merupakan market place baru yang barangkali dinilai melintasi standarkewajaranbagi generasi masa lalu, namun apapun alasannya komunitas untuk orang muda yang sekarang mulai dan akan terus berkembang ini harus menjadi perhatian serius bagi embrio gereja digital. Ketiga, Technology Enables Discipleship: Gunakan teknologi di gereja untuk memungkinkan komunikasi, komunitas, dan pemuridan. Gereja digital dapat saja menciptakan dan memiliki sebuah aplikasi khusus di mana jemaat dapat mengakses secara bebas seperti: baik outline khotbah, materi pelajaran alkitab berseri, diskusi isu-isu terkini hingga menjadi media pengumuman mingguan gerejawi, melalui gawai pintar mereka masing-masing. Teknologi memungkinkan anggota jemaat untuk meningkatkan kualitas pengalaman pemuridan mereka di gereja. Dan tentu, semua ini hanyalah sarana untuk meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pemuridan masa kini. Perhatian utama yang senantiasa menjadi awasan adalah, bahwa seluk-beluk teknologi-komunikasi digital ini bukanlah tujuan utama, melainkan sekadar untuk memungkinkan panggilan gereja dan konteks berteologi di era teknologi digital ini.
Komentar
Posting Komentar