SUKSESI KEPEMIMPINAN

 



    Setiap pemimpin hendaknya menyadari keterbatasannya untuk memimpin baik dari segi kekuatan maupun waktu, sehingga sejak awal menyiapkan suksesi kepemimpinan. Setiap pemimpin perlu menyadari bahwa dirinya hanya bisa melayani sebagai pemimpin dalam jangka waktu yang terbatas, sehingga ia harus menyiapkan pengganti sebelum masa kepemimpinannya berakhir. Disebut pemimpin yang baik, jika bisa menciptakan estapet kepemimpinan berhasil dengan baik. Pemimpin yang baik harus bisa menciptakan regenerasi. Suksesi kepemimpinan memastikan keberadaan lembaga tertentu dapat terus berjalan dengan berkesinambungan. Sebaliknya lembaga tersebut terhenti karena pemimpin gagal mempersiapkan suksesi kepemimpinan. Seorang pemimpin sejati adalah seorang tahu bagaimana mempersiapkan dan melatih pemimpin baru untuk meneruskan kepemimpinan. Memperlengkapi calon pemimpin dapat dilakukan dengan memberi kesempatan untuk belajar secara formal maupun pengalaman bersama dalam organisasi tersebut. Fungsi pemimpin bukan menciptakan pengikut, tetapi melahirkan pemimpin. Jadi, keberadaan pemimpin adalah untuk melahirkan para pemimpin baru yang bahkan lebih baik darinya.

    Suksesi seringkali diartikan sebagai peralihan pimpinan di tingkat puncak, sehingga hanya di posisi puncak tersebut seorang pemimpin dikatakan berhasil. Padahal sebenarnya suksesi dapat menjangkau berbagai lapisan manajerial yang tidak hanya menunjukkan pada jabatan atau kekuasaan namun integritas, loyalitas dan sikap yang diteladani oleh setiap anggota atau bawahan yang bekerjasama mencapai tujuan. Kepemimpinan adalah mendidik dan menyiapkan pemimpin-pemimpin visioner sangat diperlukan. Masyarakat membutuhkan pemimpin-pemimpin visioner, tetapi pemimpin semacam ini biasanya sulit ditemukan. Pemimpin-pemimpin visioner yang dikenal di manapun di seluruh dunia tidak ada yang mendapat pendidikan kepemimpinan secara khusus. Ini tidak berarti bahwa pendidikan kepemimpinan visioner tidak mungkin dilaksanakan. Karena kita menyadari bahwa dunia sangat kekurangan pemimpin visioner, maka alangkah baiknya bila lembaga menetapkan visi dan misinya sehubungan dengan pendidikan kader bagi calon-calon pemimpin visioner. Orang-orang yang menjadi pimpinan harus memutuskan tugas-tugas apa yang perlu dibagikan, dan mengawasi agar semua tugas itu dilaksanakan, tidak ada seorang pun pemimpin yang dapat memimpin tanpa membagi-bagikan tanggung jawab kepada orang lain, dan barangkali tidak ada lagi batu ujian yang begitu peka mengenai kemempinan yang baik selain cara para pemimpin menangani tugas itu. Motif-motif para pemimpin harus benar, kegagalan yang paling umum ialah: tidak mendelegasikan atau membagi-bagi tugas. Hal itu mungkin disebabkan ia mempunyai penyakit ingin menggenggam kekuasaan, atau mungkin karena pemimpin itu tidak dapat mempercayai orang lain. Akibatnya, tugas-tugas yang perlu tidak pernah dijalankan.

    Orang-orang yang mungkin dapat mengerjakannya menjadi jemu dan merasa tidak berguna. Apabila anda seorang pimpinan, turutilah teladan Nehemia dan delegasikanlah tugas. Janganlah ingin mengerjakan sendiri segala sesuatunya. Para pemimpin harus mau juga melakukan sendiri setiap tugas yang diserahkannya kepada orang lain. Mereka harus bersedia membantu orang-orang yang diserahi tugas-tugas itu. Pemimpin yang baik akan memperhatikan dengan seksama apa kebutuhan rekan-rekan sekerjanya. Kekuasaan pribadi, kemuliaan diri, kemudahan yang menyenangkan diri tidak pernah menjadi prioritas di dalam pikiran pemimpin yang baik. Mereka lebih menaruh minat pada tugas maupun pada kebutuhan orang-orang yang bekerja sama didalamnya. Pemimpin merupakan manusia biasa yang memiliki kelemahan. Untuk itu diperlukan pendidikan yang mengarahkan kepemimpinan tersebut berkarakter. Sebagai salah satu tokoh Alkitab yang menjalankan suksesi kepemimpinan adalah Nehemia. Ia menjadi suatu dorongan semangat bagi kita, ia telah menunjukkan kepada kita betapa berharga serta bermanfaatnya menanti pentunjuk Allah, dan bahwa semua perencanaan yang sungguh-sungguh dimulai di hadirat Allah. Dari teladan yang diberikannya, bahwa kepemimpinan yang sejati dan benar harus konsisten dengan kelangsungan pengabdian sebagai seorang hamba. Kita melihat bahwa minatnya terhadap prioritas-prioritas Allah dan terhadap orang Yerusalem menentukan gaya kepemimpinannya.



Sendjaya, Kepemimpinan Kristen, Yogyakarta: Kiros Books, 2004

Munroe Myles , The Spirit Of Leadership, Jakarta: Immanuel, 2009

Henry & Richard Blackaby, Kepemimpinan Rohani, Batam Centre: Gospel Press, 2005





Komentar